
Indonesia Gali Pelajaran Kewirausahaan dari Model Jerman dan Tiongkok
Pembelajaran lintas negara dalam pengembangan kewirausahaan semakin relevan bagi Indonesia. Dua model yang banyak menjadi rujukan adalah pendekatan Jerman melalui pendidikan vokasi dan model Tiongkok yang fokus pada ekosistem startup.
Indonesia terus mencari referensi terbaik untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan domestic. Dua negara yang kerap menjadi pembanding adalah Jerman dan Tiongkok dengan pendekatan yang berbeda namun sama-sama berhasil membangun fondasi ekonomi berbasis usaha. Apa yang membuat Jerman berhasil membangun ekonomi berbasis usaha kecil dan menengah? Sistem pendidikan vokasi di negara tersebut menjadi landasan utama. Sejak usia dini, peserta didik diarahkan pada keterampilan praktis dan pemahaman teknis yang langsung aplicable di dunia kerja maupun berwirausaha. Pendekatan ini menciptakan generations of entrepreneurs yang memiliki kompetensi teknis mumpuni sebelum memulai bisnis mereka. Lembaga pendidikan vokasi Jerman bekerja sama erat dengan dunia industri dalam merancang kurikulum. Siswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung di perusahaan mitra. Sistem Ausbildung atau magang terstruktur ini memastikan lulusan memiliki pengalaman kerja nyata dan jaringan profesional yang kuat sebelum lulus. Berbeda dengan Jerman, Tiongkok mengadopsi pendekatan yang lebih agresif dalam pengembangan ekosistem startup. Pemerintah setempat secara aktif memfasilitasi pertumbuhan perusahaan rintisan melalui kebijakan pendukung, pendanaan, dan infrastruktur digital yang komprehensif. Ekosistem startup di kota-kota besar Tiongkok berkembang pesat berkat sinergi antara kebijakan pemerintah, investasi venture capital, dan adopsi teknologi secara masif. Perbandingan kedua model menunjukkan kontras yang menarik dalam pendekatan kewirausahaan. Jerman membangun ekonomi dari basis melalui pendidikan dan keterampilan, sementara Tiongkok lebih bergantung pada skala dan kecepatan pertumbuhan startup berbasis teknologi. Kedua pendekatan ini menawarkan pelajaran berharga bagi Indonesia yang tengah berusaha memperkuat fondasi kewirausahaan domestic.
| Aspek | Jerman | Tiongkok |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Pendidikan vokasi dan keterampilan teknis | Ekosistem startup dan teknologi |
| Pendekatan | Gradual, berbasis kompetensi | Agresif, berbasis skala |
| Peran Pemerintah | Regulator dan fasilitator | Penggerak aktif dan investor |
| Durasi Pembentukan | Jangka panjang, generational | Cepat, berbasis momentum |
| Skala Ekonomi | Usaha kecil-menengah | Startup teknologi besar |
Pelajaran utama yang bisa diambil dari kedua model tersebut meliputi beberapa hal. Pertama, investasi pada pendidikan vokasi perlu dilakukan secara sistematis dan melibatkan sektor industri secara langsung. Kedua, ekosistem pendukung seperti permodalan, inkubasi, dan fasilitas digital harus tersedia secara merata. Ketiga, kebijakan pemerintah perlu memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk berkembang tanpa hambatan berlebihan. Keempat, adaptasi model asing harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lokal. Kelima, pembangunan kewirausahaan adalah proses jangka panjang yang memerlukan konsistensi kebijakan lintas pemerintahan. Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan kewirausahaan dengan populasi muda yang produktif dan pasar domestik yang luas. Pembelajaran dari model Jerman dan Tiongkok bisa menjadi referensi berharga asalkan diadaptasi dengan bijak sesuai karakteristik ekonomi dan budaya lokal.
Sumber: Kompasiana.com (kompasiana.com)
